![]() |
Politeknik Pertanian Negeri Kupang terus memperkuat jejaring internasional dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan kolaborasi strategis bersama Van Hall Larenstein University of Applied Sciences (VHL), Belanda, yang difokuskan pada pengembangan pendidikan vokasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan kemitraan internasional yang berorientasi pada kebutuhan pembangunan daerah.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Sotis Kupang, Kamis 11 Juni 2026, mengusung agenda utama Strategic Meeting: Strengthening Partnership of Vocational Education Development in NTT, penyusunan rencana tindak lanjut kolaborasi pengembangan pendidikan vokasi, serta penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua institusi.
Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Direktur Politani Kupang, Johanis A. Jermias, S.Pt., M.Sc., dan dihadiri oleh Jan van Iersel, Drs - President of Executive Board Van Hall Larenstein University of Applied Sciences, John Raggers, Ir.- Director of Education, Jannet Lavalette - Manager of International Affairs, Euridice Leyequien Abarca - Professor Vital Agro-Landscapes, jajaran pimpinan Politani Kupang, para kepala unit, ketua jurusan, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, serta sejumlah kepala sekolah SMA dan SMK di Kota Kupang.
Dalam sambutannya, Direktur Politani Kupang, Johanis A. Jermias,S.Pt,M.Sc menjelaskan bahwa kerja sama antara Politani Kupang dan Van Hall Larenstein telah terjalin selama hampir satu dekade dan telah menghasilkan berbagai program strategis, mulai dari penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Johanis, kerja sama yang telah terbangun kini diarahkan menuju tahap yang lebih maju, yakni pengembangan program joint degree atau double degree sebagai bagian dari penguatan pendidikan vokasi di NTT.
“Kami ingin membawa kerja sama ini ke level yang lebih tinggi melalui program pendidikan bersama. Mahasiswa nantinya dapat menempuh sebagian studi di Politani Kupang dan sebagian lagi di Belanda. Ini menjadi peluang besar bagi generasi muda NTT untuk memperoleh pengalaman belajar internasional,” ujar Johanis.
Ia juga menyampaikan bahwa Politani Kupang telah berhasil menjalankan program joint degree dengan Jiangsu Animal Husbandry Vocational College di Tiongkok, yang kini menjadi model pengembangan kerja sama serupa dengan VHL.
Selain itu, Politani Kupang tengah menjajaki peluang kerja sama magang internasional di Australia dan Malaysia sebagai bagian dari perluasan jejaring global bagi mahasiswa.
Sementara itu, Jan van Iersel Drs dalam sambutannya menegaskan bahwa kemitraan dengan Politani Kupang bukan hanya tentang merayakan capaian selama ini, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kuat untuk masa depan.
Menurutnya, tantangan global seperti perubahan iklim dan ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi lintas negara, lintas disiplin, dan lintas sektor.
“Institusi pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi motor inovasi, menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik nyata di masyarakat. Kemitraan ini adalah investasi untuk masa depan generasi muda dan pembangunan sistem pangan yang lebih tangguh,” ungkap Jan.
Ia menilai program Joint Living Lab for Climate Change and Food Systems yang telah berjalan di Kupang menjadi contoh konkret kolaborasi internasional yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Koordinator Bidang Kerja Sama Luar Negeri Politani Kupang, drh. Erda Eni Rame Hau, M.Biotech., memaparkan rencana pengembangan pendidikan bersama antara Politani Kupang dan Van Hall Larenstein. Ia menjelaskan bahwa roadmap kerja sama ke depan difokuskan pada empat program utama, yaitu International Collaborative Class, Shared Digital Campus, Microcredential International Program, dan pengembangan Joint Degree.
Menurut Erda, langkah-langkah tersebut dirancang sebagai tahapan awal menuju implementasi penuh program joint degree, khususnya pada program Sarjana Terapan (D4), yang dinilai paling relevan dengan sistem pendidikan di Belanda.
“Kami ingin memastikan bahwa kerja sama ini tidak hanya berhenti pada penelitian dan pengabdian, tetapi juga berlanjut pada penguatan pendidikan vokasi yang memberikan dampak langsung bagi mahasiswa dan masyarakat,” jelas Erda.
Ia juga menekankan bahwa tantangan seperti perbedaan kurikulum, kalender akademik, biaya hidup, dan kemampuan bahasa menjadi perhatian utama yang perlu dipersiapkan secara matang melalui kolaborasi bersama pemerintah, sekolah, dan mitra internasional.
Melalui penandatanganan MoU dan penyusunan roadmap kerja sama ini, Politani Kupang dan Van Hall Larenstein menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat pendidikan vokasi berbasis kolaborasi internasional, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta menciptakan inovasi yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan, dan pembangunan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur. (**).










