![]() |
![]() |
Politeknik Pertanian Negeri Kupang kembali menorehkan sejarah penting dengan mengukuhkan Guru Besar VII dan VIII, yakni Prof. Dr. drh. Ewaldus Wera, M.Sc. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner serta Prof. Dr. Fransiskus Xaverius Dako, S.Hut., M.Sc. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kehutanan Sosial.
Prosesi pengukuhan berlangsung di Gedung Student Center Politani Kupang, Sabtu (18/7/2026), dihadiri oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dr. Drs. Jusuf Lery Rupidara, M.Si., Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV Prof. Dr. Adrianus Amheka, S.T., M.Eng., para pimpinan perguruan tinggi, mitra kerja, sivitas akademika, tamu undangan dan keluarga.
Prosesi akademik ditandai dengan pengalungan gordon Guru Besar kepada kedua profesor oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV, Prof. Dr. Ir. Amheka, M.Si., sebagai simbol resmi pengukuhan ke dalam jabatan akademik tertinggi.
Dengan dikukuhkannya kedua profesor tersebut, Politani Kupang kini resmi memiliki delapan Guru Besar, sebuah capaian yang memperkuat posisi institusi sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi dengan perkembangan akademik yang pesat di Indonesia Timur.
Direktur Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Johanis A. Jermias, S.Pt., M.Sc., menegaskan bahwa pengukuhan Guru Besar bukan sekadar pencapaian akademik tertinggi bagi individu, tetapi merupakan investasi jangka panjang bagi institusi, pemerintah, dan masyarakat.
"Institusi, pemerintah, dan masyarakat tidak membutuhkan tumpukan laporan administratif. Yang dibutuhkan adalah dampak nyata, pemikiran solutif, serta karya-karya konkret yang mampu menjawab persoalan bangsa," tegas Johanis dalam sambutannya.
Menurutnya, Guru Besar memiliki tanggung jawab strategis sebagai penjaga mutu akademik sekaligus pengarah perkembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi. Selain melaksanakan pendidikan, mereka diharapkan mampu memimpin riset unggulan, menghasilkan inovasi, meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi, serta menjadi mentor bagi dosen muda dan mahasiswa.
Direktur juga mengingatkan bahwa jabatan Guru Besar harus dimaknai sebagai amanah untuk terus menghadirkan solusi ilmiah terhadap berbagai persoalan masyarakat. Kepakaran yang dimiliki hendaknya tidak berhenti di ruang akademik, tetapi menjadi dasar penyusunan kebijakan publik, pengembangan teknologi tepat guna, hingga pemberdayaan masyarakat melalui riset terapan yang berdampak nyata.
Mewakili Gubernur Nusa Tenggara Timur, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi NTT, Dr. Drs. Jusuf Lery Rupidara, M.Si., menyampaikan apresiasi atas lahirnya dua Guru Besar baru yang dinilai menjadi energi baru bagi pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan.
"Atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur kami menyampaikan selamat kepada kedua putra terbaik NTT yang hari ini dikukuhkan sebagai Guru Besar. Ini merupakan energi positif bagi pembangunan daerah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi," ujarnya.
Sebagai Guru Besar Bidang Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner, Prof. Ewaldus Wera dikenal melalui berbagai penelitian tentang epidemiologi penyakit hewan, kesehatan veteriner, dan analisis ekonomi pengendalian penyakit ternak. Riset-risetnya memberikan kontribusi penting terhadap upaya pengendalian rabies dan penyakit hewan menular lainnya di NTT, sekaligus menunjukkan bahwa investasi pada kesehatan hewan merupakan langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan peternak.
Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Ewaldus menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan peternakan tidak hanya diukur dari peningkatan populasi ternak, tetapi juga dari kemampuan menjaga kesehatan hewan sebagai fondasi kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Prof. Fransiskus Xaverius Dako selama bertahun-tahun mendedikasikan penelitian dan pengabdiannya pada pengelolaan hutan berkelanjutan, rehabilitasi lahan kritis, konservasi sumber daya alam, serta penguatan perhutanan sosial berbasis masyarakat.
Salah satu fokus utamanya adalah konservasi pohon cendana sebagai identitas ekologis NTT, sekaligus pengembangan sistem agroforestri sebagai strategi menghadapi perubahan iklim di wilayah lahan kering.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Fransiskus menegaskan bahwa hutan harus dipandang sebagai ruang hidup bersama yang dikelola secara berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Pengukuhan Guru Besar VII dan VIII menjadi tonggak penting bagi Politani Kupang dalam memperkuat budaya riset, memperluas kolaborasi dengan pemerintah dan dunia usaha, serta menghasilkan inovasi terapan yang mendukung pembangunan sektor pertanian, peternakan, kehutanan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Di balik toga kebesaran yang dikenakan kedua profesor, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun melalui dedikasi, integritas, dan kerja keras. Momentum tersebut menjadi inspirasi bagi sivitas akademika bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi harus hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat.
Dengan bertambahnya jumlah Guru Besar menjadi delapan orang, Politani Kupang semakin optimistis memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan vokasi, riset terapan, dan inovasi yang berkontribusi bagi terwujudnya Nusa Tenggara Timur yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.***











