![]() |
![]() |
Jurusan Kehutanan Politeknik Pertanian Negeri Kupang resmi menutup rangkaian Perkemahan Kerja Bakti dan Malam Rimbawan (PKMR) Angkatan XVIII Tahun 2026 di Taman Wisata Alam Camplong, Kabupaten Kupang, Jumat 10 Juli 2026. Mengusung tema "Menanam Harapan, Merawat Hutan, dan Membangun Masa Depan", kegiatan ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter, kepemimpinan, dan profesionalisme mahasiswa sebagai calon rimbawan muda.
Penutupan kegiatan dihadiri Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan Fabianus Ranta, S.Hut., M.Si., Ketua Jurusan Kehutanan Prof. Dr. Fransiskus X. Dako, S.Hut., M.Sc., dosen, teknisi, tenaga kependidikan, senior pendamping, serta 75 mahasiswa peserta PKMR.
Ketua Panitia PKMR XVIII, Yudhistira A.N.R. Ora, S.Hut., G.Dip.For., M.For., menjelaskan bahwa PKMR merupakan agenda tahunan Jurusan Kehutanan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-18. Kegiatan tersebut dirancang sebagai media pembelajaran lapangan untuk membentuk karakter dan jiwa korsa mahasiswa, sekaligus memperkenalkan lingkungan kerja kehutanan secara nyata.
"Mahasiswa tidak hanya dibekali ilmu di ruang kuliah, tetapi juga keterampilan bekerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi lapangan yang sesungguhnya. Semua itu menjadi bekal penting ketika mereka kelak mengabdi sebagai rimbawan," ujarnya.
Menurut Yudhistira, tujuan utama PKMR tahun ini adalah meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian hutan dan lingkungan, mengembangkan keterampilan konservasi sumber daya hutan, menumbuhkan jiwa kepemimpinan, memperkuat kerja sama, mempererat hubungan mahasiswa dengan dosen, alumni dan masyarakat, serta menanamkan nilai profesionalisme dan etika rimbawan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Pra-PKMR yang berlangsung sejak 2 Juni hingga 6 Juli 2026 di Kampus Politani Kupang dan Kantor Basarnas Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya kegiatan lapangan dilaksanakan di Taman Wisata Alam Camplong pada 7–10 Juli 2026.
Sebanyak 75 mahasiswa dari Program Studi Pengelolaan Hutan dan Program Studi Manajemen Sumber Daya Hutan mengikuti kegiatan tersebut. Mereka didampingi 80 senior pendamping serta didukung 43 dosen, teknisi, DLB, TLB, dan tenaga kependidikan, sehingga total yang terlibat mencapai 198 orang.
Ketua Jurusan Kehutanan Politani Kupang, Prof. Dr. Fransiskus X. Dako, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa PKMR bukan sekadar kegiatan kemahasiswaan, melainkan proses pembentukan karakter calon profesional kehutanan.
Ia menyampaikan bahwa rentang kegiatan yang berlangsung lebih dari satu bulan menjadi latihan mental bagi mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan dunia kerja yang sesungguhnya.
"Semua pengalaman yang kalian rasakan selama PKMR merupakan proses pembelajaran. capek, lelah, bekerja dalam tim, menyelesaikan persoalan di lapangan, semuanya akan menjadi bekal ketika kalian menjadi rimbawan profesional," katanya.
Prof. Fransiskus juga menekankan pentingnya meninggalkan budaya kekerasan dalam setiap kegiatan kemahasiswaan.
Menurutnya, PKMR harus menjadi ruang pembinaan yang menyenangkan, humanis, dan edukatif, tanpa menghilangkan nilai disiplin serta jiwa korsa.
"Kita ingin membangun budaya organisasi yang sehat. Tidak boleh lagi ada tindakan yang membahayakan peserta. Yang harus kita bangun adalah kebersamaan, kepemimpinan, tanggung jawab, dan saling menghargai," tegasnya.
Ia memberikan apresiasi kepada seluruh panitia, dosen, teknisi, mahasiswa senior, dan peserta yang berhasil menyelesaikan seluruh tahapan kegiatan dengan penuh tanggung jawab di tengah keterbatasan anggaran.
Prof. Fransiskus juga mengajak seluruh mahasiswa menjadi duta promosi Jurusan Kehutanan dengan menunjukkan prestasi akademik maupun nonakademik kepada masyarakat.
Ia menambahkan bahwa Program Studi Pengelolaan Hutan baru saja memperoleh peningkatan status akreditasi menjadi Baik Sekali, sehingga semakin memperkuat daya saing lulusan Politani Kupang di tingkat nasional.
Menutup kegiatan, Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan Politani Kupang Fabianus Ranta, S.Hut., M.Si. menegaskan bahwa PKMR merupakan bagian dari proses pendidikan vokasi yang menyiapkan mahasiswa menjadi lulusan berkarakter.
Menurutnya, kegiatan tersebut memperkenalkan mahasiswa pada lingkungan kerja kehutanan sekaligus membangun identitas sebagai rimbawan.
"Melalui PKMR, mahasiswa diperkenalkan langsung dengan alam sebagai ruang pengabdian mereka di masa depan. Menjadi rimbawan bukan hanya memahami teori, tetapi juga memiliki karakter, etika, disiplin, dan kecintaan terhadap hutan," ujarnya.
Fabianus menjelaskan bahwa nilai-nilai rimbawan yang diwariskan para pendahulu sejak puluhan tahun lalu menjadi fondasi pendidikan kehutanan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Karena itu, seluruh rangkaian PKMR harus dipandang sebagai proses akademik yang mengedepankan ilmu pengetahuan, etika profesi, serta pembentukan karakter.
Ia juga mengingatkan seluruh mahasiswa agar menjunjung tinggi norma, disiplin, dan menghindari segala bentuk kekerasan.
"PKMR dibangun untuk memperkuat jiwa korsa melalui kebersamaan, saling membantu, dan menghargai sesama. Nilai akademik harus menjadi roh utama kegiatan ini," katanya.
Bagi para peserta, PKMR menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.
Salah seorang peserta, Yance Dominggus Ampasoy, mahasiswa semester II Program Studi Pengelolaan Hutan, mengaku mengikuti proses pembinaan sejak Pra-PKMR hingga pelantikan sebagai anggota baru rimbawan muda memberikan banyak pelajaran berharga.
Selama berada di kawasan hutan, peserta mengikuti berbagai kegiatan seperti survival, analisis vegetasi, pengamatan satwa liar, latihan kepemimpinan, hingga penyelesaian tantangan pada tujuh pos lapangan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan jerit malam, api unggun, dan prosesi pelantikan.
Menurut Yance, tantangan terbesar bukan hanya kondisi alam, tetapi juga menjaga kekompakan tim ketika menghadapi perbedaan pendapat.
"Awalnya kami sempat mengalami konflik dan rasa kurang percaya diri. Namun senior terus membimbing kami hingga akhirnya kami kembali kompak dan mampu menyelesaikan seluruh tantangan bersama," ungkapnya.
Ia berharap semangat kebersamaan, tanggung jawab, dan kerja sama yang dibangun selama PKMR terus melekat ketika para peserta memasuki dunia kerja sebagai rimbawan profesional.
PKMR XVIII tidak hanya menjadi penutup rangkaian kegiatan lapangan, tetapi juga menandai lahirnya generasi baru rimbawan muda Politani Kupang yang siap mengemban tanggung jawab menjaga kelestarian hutan Indonesia.
Melalui perpaduan pembelajaran akademik, praktik lapangan, kepemimpinan, dan penguatan karakter, Jurusan Kehutanan Politani Kupang terus menegaskan komitmennya menghasilkan lulusan vokasi yang profesional, berintegritas, adaptif terhadap tantangan lingkungan, serta mampu menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan.
Dengan semangat "Menanam Harapan, Merawat Hutan, dan Membangun Masa Depan", PKMR XVIII menjadi investasi penting bagi lahirnya rimbawan muda yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, etika profesi, dan dedikasi tinggi dalam menjaga kelestarian hutan demi generasi mendatang.***












