![]() |
![]() |
Politeknik Pertanian Negeri Kupang melalui Program Revitalisasi Perguruan Tinggi Negeri Vokasi (PRPTNV) Tahun Anggaran 2026 terus mendorong penguatan pembelajaran vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Lokakarya Inovasi Microlearning dan Microcredentials untuk Mendukung TEFA Pertanian Organik yang berlangsung pada 16–17 September 2026 di Gedung Community Center Lantai 2, Politeknik Pertanian Negeri Kupang.
Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini menjadi bagian dari penguatan pembelajaran berbasis Teaching Factory (TEFA) di Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering yang melibatkan dosen, Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP), teknisi, serta tenaga laboratorium. Lokakarya dirancang tidak hanya sebagai forum berbagi pengetahuan, tetapi juga untuk menghasilkan konsep dan produk pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran vokasi.
Manajer Program Revitalisasi, Dr. Alfred Umbu Kuala Ngaji, S.P., M.Si., dalam laporannya menjelaskan bahwa program revitalisasi merupakan program berbasis institusi yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas perguruan tinggi vokasi melalui pengembangan program studi dan Teaching Factory.
“Lokakarya ini ditujukan untuk memperkuat pembelajaran berbasis Teaching Factory melalui pengembangan microlearning dan microcredential, serta integrasi project-based learning dengan proses kerja nyata TEFA pertanian organik,” jelasnya.
Lokakarya menghadirkan dua narasumber, yakni Johana Manubey, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Yetursance Y. Manafe, ST., MT. Pada hari pertama, peserta mendapatkan penguatan mengenai konsep microlearning, microcredential, dan TEFA, dilanjutkan dengan pengembangan konsep pembelajaran yang terintegrasi dengan praktik pertanian organik, termasuk pemanfaatan fasilitas seperti rumah pupuk dan screen house hidroponik/aquaponik.
Sementara pada hari kedua, peserta diarahkan untuk melakukan review, finalisasi, simulasi, presentasi hasil, serta menyusun rencana tindak lanjut dari konsep pembelajaran yang telah dikembangkan.
Dorong Pembelajaran yang Lebih Adaptif
Direktur Politeknik Pertanian Negeri Kupang menekankan bahwa inovasi pembelajaran menjadi kebutuhan penting bagi perguruan tinggi vokasi di tengah perubahan teknologi dan karakteristik generasi pembelajar.
Menurutnya, microlearning menjadi salah satu pendekatan yang relevan karena materi pembelajaran dapat dikemas secara lebih ringkas, fokus, dan menarik sehingga lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
“Microlearning ini penting untuk kita pahami bersama. Dengan durasi yang lebih singkat dan materi yang lebih fokus, pendekatan ini dapat menjadi inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajar saat ini,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa microcredential memiliki peran penting dalam pengakuan terhadap kompetensi tertentu yang dimiliki seseorang. Dalam konteks pendidikan vokasi, pendekatan tersebut dapat mendukung proses pembelajaran yang lebih fleksibel sekaligus memberikan pengakuan terhadap keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Lebih jauh, Direktur menegaskan bahwa karakter pendidikan vokasi harus tetap berorientasi pada keterampilan terapan. Karena itu, inovasi pembelajaran yang dikembangkan melalui lokakarya diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi menghasilkan produk yang dapat diimplementasikan.
“Ini bukan hanya kegiatan untuk berteori, tetapi harus menghasilkan produk. Kita berada pada level pendidikan vokasi yang menekankan penerapan, sehingga hasil dari kegiatan ini harus dapat terlihat dan dimanfaatkan dalam proses pembelajaran,” tegasnya.
TEFA Pertanian Organik Jadi Ruang Belajar Nyata
Salah satu fokus utama kegiatan adalah pengembangan TEFA pertanian organik sebagai ruang pembelajaran yang mendekatkan mahasiswa dengan situasi kerja nyata.
Melalui TEFA, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga mengalami proses kerja yang menyerupai lingkungan industri dan dunia usaha secara langsung. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa belajar melalui praktik, pemecahan masalah, serta penyelesaian proyek yang memiliki konteks nyata.
Pengembangan TEFA pertanian organik juga diarahkan untuk mendukung penerapan project-based learning dan case-based learning dalam proses pembelajaran di lingkungan Politeknik Pertanian Negeri Kupang.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran diharapkan semakin kontekstual, sekaligus memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam memahami proses produksi, pengelolaan usaha, pemecahan persoalan, dan penerapan teknologi pertanian secara langsung.
Melalui lokakarya ini, Politeknik Pertanian Negeri Kupang menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pembelajaran vokasi yang inovatif, adaptif, berbasis praktik, dan berorientasi pada kebutuhan dunia kerja. Penguatan microlearning, microcredential, dan TEFA pertanian organik diharapkan menjadi bagian dari langkah strategis menuju pembelajaran vokasi yang semakin relevan dan berdampak.











