![]() |
![]() |
Politeknik Pertanian Negeri Kupang mewisuda 535 lulusan Sarjana Terapan dan Ahli Madya dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa, Kamis (8/10/2026). Dari jumlah tersebut, sembilan lulusan merupakan peserta program joint degree hasil kerja sama Politeknik Pertanian Negeri Kupang dengan Jiangsu Agri-Animal Husbandry Vocational College, Tiongkok, yang diharapkan membawa pengalaman pembelajaran internasional untuk mendukung pengembangan pertanian dan potensi desa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan berlangsung di Student Center Politani Kupang dan dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, Direktur Politani Kupang Johanis A. Jeremias, S.Pt., M.Sc., Ketua Senat Prof. Dr. Ir. Jeriels Matatula, S.Hut., M.Sc., jajaran wakil direktur, anggota senat, civitas akademika, para wisudawan serta orang tua.
Gubernur NTT dalam sambutannya, mengapresiasi kerja sama internasional tersebut sebagai langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Politani Kupang. Menurutnya, pengalaman belajar di Tiongkok dapat memperluas wawasan lulusan, terutama dalam memahami pengelolaan sektor pertanian secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Ia menilai pengalaman internasional tersebut menjadi modal penting bagi generasi muda untuk melihat bagaimana sistem pertanian dapat dikembangkan melalui keterhubungan berbagai tahapan produksi, mulai dari persiapan benih, penanaman, panen, distribusi, hingga pengolahan hasil menjadi produk bernilai tambah.
Menurut Gubernur, hilirisasi produk lokal tidak lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, lulusan pendidikan vokasi pertanian diharapkan tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu mengembangkan usaha dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam yang tersedia di daerah asalnya.
Lulusan Vokasi Didorong Kembangkan Potensi Desa
Melki menegaskan bahwa desa memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di NTT. Ia mengajak para lulusan Politani Kupang untuk tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan di perkotaan atau menjadi aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga berani kembali ke desa dan membangun usaha sesuai kompetensi yang dimiliki.
Menurutnya, peluang untuk berkarya di bidang pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan pengolahan hasil pertanian tersedia di berbagai wilayah NTT. Potensi tersebut perlu dikelola secara produktif agar dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian lokal.
Ajakan tersebut sejalan dengan program ekonomi kerakyatan Pemerintah Provinsi NTT melalui pendekatan one village, one product, yakni pengembangan produk unggulan berdasarkan potensi setiap desa.
Gubernur juga menyampaikan rencana untuk mendorong keterlibatan Bank NTT dalam memberikan pendampingan dan pelatihan kepada lulusan yang ingin berwirausaha, termasuk informasi mengenai akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Ia mengajak para calon wirausaha menyiapkan proposal bisnis, baik secara individu maupun kelompok, agar ide usaha yang dikembangkan dapat memperoleh pendampingan dan dukungan pembiayaan sesuai ketentuan yang berlaku.
Politani Kupang Perkuat Pembelajaran Berbasis Praktik dan Kemitraan
Direktur Politani Kupang Johanis A. Jermias, S.Pt., M.Sc., menyampaikan bahwa 535 lulusan yang diwisuda pada Oktober 2026 berasal dari lima jurusan. Sebelumnya, pada April 2026, Politani Kupang telah mewisuda 213 lulusan. Dengan demikian, total lulusan Sarjana Terapan dan Ahli Madya Politani Kupang sepanjang 2026 mencapai 748 orang.
Johanis menegaskan bahwa lulusan pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, modernisasi pertanian, peningkatan kualitas produksi peternakan, pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta pelestarian lingkungan. Ia berharap para alumni mampu menerapkan kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Dalam sambutannya, Direktur juga memaparkan sejumlah capaian institusi, antara lain peningkatan jumlah kekayaan intelektual dan paten dari 64 menjadi 102, serta penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi mitra di Tiongkok melalui program joint degree.
Politani Kupang juga terus mengembangkan pembelajaran berbasis praktik melalui kawasan agro-eduwisata dan Teaching Factory (TEFA) ayam petelur yang telah beroperasi dengan 2.520 ekor ayam. Fasilitas tersebut menjadi ruang pembelajaran berbasis proyek bagi mahasiswa sekaligus sarana penerapan pengetahuan dan keterampilan dalam kegiatan produksi.
Penguatan kerja sama internasional, fasilitas praktik, dan kemitraan dengan berbagai pihak menjadi bagian dari upaya Politani Kupang menyiapkan lulusan yang adaptif, kompeten, dan mampu menghadirkan inovasi di sektor pertanian.
Wisuda Menjadi Awal Pengabdian kepada Masyarakat
Pesan tentang pentingnya membawa ilmu ke tengah masyarakat juga disampaikan perwakilan lulusan terbaik, Wa Ode Rizkyah, S.Tr.Pi., dari Program Studi Agribisnis Perikanan, Jurusan Perikanan dan Kelautan. Ia meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,94.
Dalam pesannya, Rizkyah mengingatkan bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi tidak terlepas dari doa, dukungan, dan pengorbanan keluarga. Ia juga menegaskan bahwa wisuda bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk menghadapi tantangan dan tanggung jawab yang baru.
“Di balik toga yang kami kenakan hari ini, ada begitu banyak cerita, perjuangan, air mata, kegagalan, rasa lelah, doa, dan tentunya harapan,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh lulusan untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah bagi masyarakat.
Wisuda Oktober 2026 menjadi momentum bagi Politani Kupang untuk menegaskan kontribusi pendidikan vokasi dalam pembangunan daerah. Kehadiran sembilan lulusan program joint degree menambah dimensi kerja sama internasional dalam upaya tersebut, dengan harapan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dapat dikembangkan menjadi inovasi nyata.
Melalui kompetensi, keberanian berwirausaha, dan kemauan mengembangkan potensi lokal, para lulusan diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun pertanian yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan, sekaligus menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di NTT.***











